
Hari Pasaran Jawa
Mengenal Lima Pasaran Dalam Tradisi Jawa
Memahami Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon sebagai bagian dari sistem penanggalan Jawa.
Mengenal hari pasaran Jawa
✳️ Apa Itu Hari Pasaran?
Dalam penanggalan Jawa, selain dikenal tujuh hari (Senin hingga Minggu), terdapat lima hari pasaran yang berputar berulang setiap hari.
Lima pasaran ini yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasiantara hari dan pasaran membentuk weton yang menjadi bagian penting dalam berbagai tradisi Jawa.
Hari pasaran bukan sekedar hitungan waktu, tetapi juga mengandung nilai simbolik, filosofi, dan makna yang diwariskan turun-temurun.

☀ Lima Pasaran Jawa ☀

Legi
Makna
Keselarasan, Harmoni, dan Kelembutan
Nilai Neptu
5

Pahing
Makna
Kekuatan batin, tekad, dan pengendalian diri
Nilai Neptu
9

Pon
Makna
Keseimbangan, pikiran jernih, dan bijaksana
Nilai Neptu
7

Wage
Makna
Ketekunan, kerja keras dan ketulusan
Nilai Neptu
4

Kliwon
Makna
Spiritualitas, kepekaan, dan intuisi kuat
Nilai Neptu
8
Nilai Neptu Hari Pasaran
| Pasaran Jawa | Nilai Neptu Jawa |
|---|---|
| Legi | 5 |
| Pahing | 9 |
| Pon | 7 |
| Wage | 4 |
| Kliwon | 8 |
Catatan: Nilai neptu merupakan bagian dari sistem perhitungan tradisi Jawa
Hubungan Pasaran Dengan Weton

Hari (7 Hari Biasa)
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu
+

Pasaran (5 Hari Pasaran)
Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon
=

Weton
Kombinasi Hari dan Pasaran membentuk Weton
Setiap hari akan selalu berpasangan dengan salah satu pasaran. Setelah lima hari pasaran berlalu, putaran akan kembali ke awal (Legi) secara berulang.

“Hari pasaran bukan hanya hitungan angka, tetapi bagian dari cara masyarakat Jawa membaca waktu dan kehidupan. “

Catatan Kebudayaan: Kesenian dan tradisi Jawa memiliki kekayaan variasi daerah (gagrak) yang sangat beragam. Penjelasan dalam artikel dan website ini merangkum versi umum yang berkembang di masyarakat. Jika Anda memiliki perspektif atau tradisi lokal yang ingin dibagikan, silakan hubungi kami.


