Ada satu suara yang selalu bikin anak-anak di kampung berlarian menuju alun-alun. Bukan suara petasan, bukan pula suara pengeras masjid.
Suara itu datang dari kecrek dan gamelan degung, pertanda dalang sudah mulai membuka lakon Wayang Golek malam itu. Sosok kayu berwajah lucu bakal segera muncul, dan semua orang tahu, tawa besar sebentar lagi pecah.
Antara Kayu Pule dan Bahasa Jiwa Masyarakat Pasundan
Wayang Golek bukan sekadar boneka kayu yang digerakkan tangan terampil. Ia bahasa jiwa masyarakat Pasundan, cara rakyat kecil menitipkan keluh kesah lewat sindiran yang dibalut humor renyah.
Beda dengan wayang kulit yang mengandalkan bayangan, golek justru tampil telanjang di bawah cahaya. Wujudnya utuh, ekspresinya jujur, tanpa perlu ditafsirkan lewat siluet.
Jejak Sejarah: Dari Pesisir Jawa hingga Pegunungan Sunda
Cerita asal-usulnya panjang dan berliku. Sebagian sejarawan menyebut cikal bakal Wayang Golek berasal dari Wayang Thengul, kesenian pesisir utara Jawa yang sudah ada sejak abad keenam belas.
Bentuknya waktu itu masih sederhana, dipengaruhi kuat oleh seni patung Tiongkok yang dibawa pedagang lewat jalur pelabuhan. Belakangan, muncul pula Wayang Menak, yang mengangkat kisah Amir Hamzah dan sarat nuansa Islam.
Ketika kesenian ini merambah ke tanah Pasundan, terjadi pergeseran besar. Masyarakat Sunda tidak sekadar meniru, mereka meracik ulang. Cerita Mahabharata dan Ramayana diserap, disandingkan dengan cita rasa humor khas Sunda yang lebih cair dan akrab.
Dalang-dalang legendaris seperti Abah Sunarya dari Giri Harja punya andil besar membentuk wajah Wayang Golek modern. Berkat tangan dinginnya, kesenian ini tidak cuma bertahan, tapi berkembang jadi identitas budaya yang kuat di Jawa Barat, dikenal luas hingga ke panggung internasional.
Yang menarik, perjalanan Wayang Golek juga tak lepas dari peran kerajaan-kerajaan kecil di Priangan yang dulu kerap menanggap pertunjukan sebagai bagian dari upacara adat. Dari sanalah pakem-pakem penting mulai terbentuk, mulai dari urutan lakon pembuka, gending pengiring, sampai tata cara dalang membuka sesi ruwatan sebelum cerita utama dimulai. Tradisi lisan ini diwariskan dari generasi ke generasi, sebagian besar tanpa naskah tertulis, murni lewat proses nyantrik, magang bertahun-tahun di sanggar seorang dalang senior sebelum akhirnya dianggap layak memegang golek sendiri di atas panggung.
Anatomi dan Seni Kriya Pembuatan Wayang Golek
Membuat satu Wayang Golek bukan pekerjaan sehari dua hari. Prosesnya panjang, dimulai dari pemilihan kayu.
Kayu pule jadi favorit utama para pengrajin. Teksturnya ringan, seratnya halus, gampang dipahat tanpa gampang retak. Sebagai alternatif, kayu albasiah atau sengon juga sering dipakai, terutama untuk golek dengan permintaan produksi lebih cepat.
Proses memahat dimulai dari bagian kepala, bagian paling rumit sekaligus paling menentukan karakter tokoh. Pengrajin harus jeli menentukan raut wajah, bentuk mata, lengkung bibir, sebab dari situlah watak si tokoh langsung terbaca penonton bahkan sebelum dalang membuka suara.
Rangka, Gerak, dan Busana
Setelah kepala selesai, badan dan tangan dirangkai memakai teknik sambung yang memungkinkan gerakan luwes saat dimainkan. Tangan biasanya digerakkan lewat tongkat kecil yang tersembunyi di balik kain, memberi kesan gestur hidup layaknya manusia sungguhan.
Tahap pewarnaan tak kalah penting. Warna prada emas, merah menyala, atau putih bersih dipilih sesuai watak tokoh, mengikuti pakem lama yang diwariskan turun-temurun. Busana golek pun tidak sembarangan, kain batik dan songket dijahit presisi, mencerminkan status sosial dan asal daerah karakter yang diperankan.
Ada satu detail yang sering luput dari perhatian penonton, yaitu bagian dalam tubuh golek yang berongga. Rongga ini bukan sekadar efisiensi bahan, melainkan tempat menyisipkan tongkat utama yang jadi poros gerak seluruh tubuh boneka. Kombinasi tongkat utama dan dua tongkat tangan inilah yang memungkinkan satu dalang memainkan gestur begitu kaya, dari gerakan menyembah yang khidmat sampai tepukan tangan Cepot yang menggelegar, semuanya lahir dari koordinasi jemari yang sudah terlatih puluhan tahun. Tak jarang, pengrajin dan dalang adalah orang yang sama, sehingga karakter yang dipahat benar-benar lahir dari pemahaman mendalam tentang bagaimana tokoh itu nanti akan “berbicara” di atas panggung.
Fenomena Punakawan: Humor, Kritik Sosial, dan Kearifan Cepot
Kalau ditanya siapa tokoh paling dicintai penonton, jawabannya hampir selalu sama. Cepot, atau nama lengkapnya Astrajingga, selalu jadi bintang panggung setiap kali muncul.
Tokoh Populer dalam Wayang Golek
Salah satu daya tarik utama pertunjukan Wayang Golek adalah kehadiran kelompok Punakawan khas Sunda…

Cepot (Astrajingga) menjadi sosok paling ikonik dengan wajah merahnya yang khas, karakter humoris, namun sarat akan kritik sosial yang bijak…
Wajahnya merah menyala, giginya besar dan berantakan, tapi justru dari wajah “kurang sempurna” itu lahir kejujuran yang menohok. Cepot bicara apa adanya, menertawakan pejabat yang sombong, menyindir kebijakan yang timpang, semua dibungkus lelucon yang membuat penonton tertawa sambil merenung.
Di sampingnya ada Dawala, adiknya yang lebih kalem tapi tak kalah kritis, dan Gareng, sosok yang kerap jadi penyeimbang saat suasana mulai memanas. Ketiganya membentuk trio Punakawan versi Sunda, representasi rakyat jelata yang justru menyimpan kebijaksanaan lebih dalam dibanding para ksatria dan raja yang mereka layani.
Uniknya, dialog para Punakawan ini jarang terikat naskah baku. Dalang diberi ruang improvisasi luas, membahas isu terkini, mulai dari harga cabai yang melonjak sampai gosip politik teranyar. Itulah sebabnya satu lakon yang sama bisa terasa berbeda setiap kali dipentaskan, tergantung suasana hati penonton dan situasi zaman saat itu.
Nilai Filosofis dan Relevansi Wayang Golek di Zaman Modern
Di balik gelak tawa yang dihadirkan, Wayang Golek menyimpan lapisan makna yang jarang disadari penonton awam. Setiap lakon selalu membawa pesan tentang keseimbangan, antara nafsu dan akal budi, antara kekuasaan dan tanggung jawab moral.
Kisah-kisah besar seperti Rama Sinta atau Bharatayudha diadaptasi bukan sekadar hiburan, melainkan cermin dilema hidup yang masih relatif sama sampai sekarang. Persoalan kesetiaan, pengkhianatan, ambisi yang membutakan, semuanya dikemas ulang dengan bahasa yang membumi dan mudah dicerna orang awam.
Sekarang, tantangan terbesar Wayang Golek bukan lagi soal isi cerita, melainkan soal bagaimana bertahan di tengah gempuran hiburan digital. Sejumlah dalang muda mulai berani bereksperimen, memadukan iringan musik modern dengan pakem gamelan tradisional, memperpendek durasi pertunjukan agar lebih ramah untuk generasi yang terbiasa dengan konten singkat.
Beberapa sanggar bahkan mulai rutin mengunggah potongan pementasan ke platform video pendek. Hasilnya lumayan mengejutkan, banyak anak muda yang justru mengenal Cepot pertama kali lewat layar ponsel, sebelum akhirnya penasaran dan datang langsung menonton pertunjukan aslinya.
Sekolah-sekolah di beberapa daerah Jawa Barat pun mulai memasukkan pengenalan Wayang Golek ke dalam muatan lokal, bukan sekadar teori di buku paket, tapi lewat praktik langsung memegang dan menggerakkan golek sederhana. Langkah kecil semacam ini penting, sebab regenerasi dalang bukan perkara mudah. Butuh bertahun-tahun latihan vokal, olah rasa, sekaligus kepekaan membaca situasi penonton, sesuatu yang sulit digantikan sepenuhnya oleh teknologi secanggih apa pun.
Kesenian wayang bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan telah diakui secara resmi oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.
Penutup
Kayu pule yang dipahat sederhana itu, pada akhirnya, menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan malam. Ia jadi wadah tempat rakyat kecil menitipkan suara, tempat kritik sosial disampaikan tanpa harus berujung konflik terbuka.
Selama masih ada dalang yang berani menyuarakan kegelisahan lewat mulut Cepot, dan selama masih ada penonton yang bersedia duduk lesehan menikmati lakon semalam suntuk, Wayang Golek rasanya akan terus hidup. Bukan sebagai artefak masa lalu yang dipajang di museum, melainkan sebagai suara yang terus bergerak, mengikuti denyut zaman yang terus berganti.







Leave a Reply